May 21, 2011

#BlankOnista : Hari Kebangkitan Nasional

Sepertinya lagi musim kampanye Produk dengan menjual menggunakan rasa nasionalisme. Mungkin ini strategi biar populer, kamu orang indonesia bukan? cinta produk indonesia? pengen indonesia mandiri tidak? mau bangkit?

Kalo kamu tidak bisa beli dan akhirnya membajak, mending pakai yang berbasis Gratisan OpenSource aja deh…

Desktop nya mudah digunakan loh, bahkan yang terbiasa menggunakan Windows (masih musim yah ngomong gitu?).

Aman dari gangguan virus, O yeeah…

Agar bisa mandiri, kita harus mulai berani untuk melepaskan diri dari belenggu software bajakan dan beralih ke software legal buatan lokal. Hmmmm..sambil manggut-manggut

Beda lagi kalo ngomong di depan orang yang Religius,

Membajak = Mencuri = Maling = Nyolong = Dosa = Haram

————–

Kesimpulan dan Tips dari BlankOnista :

  • Gunakan kata-kata “menggunakan Standar Nasional Indonesia SNI”.
  • Selalu sangkut-sangkutkan dengan rasa nasionalisme untuk kampanye, seperti kata “indonesia”, “garuda”, “pancasila”.
  • Gunakan kata “lokal”, produk lokal, orang lokal, lokalisasi, konten lokal, dan seterusnya.
  • Kaitkan dengan hal yang berbau kriminal dan kejahatan bila tidak menggunakan.
  • Jangan lupa bilang kalo semuanya serba canggih.
  • Dan terakhir, gunakan momen yang tepat seperti Hari Libur Kebangkitan Nasional kemarin.

NB :

Mohon maaf kalau terlihat seperti adegan penistaan, karena saya memang kenthir.

Hashtag #BlankOnista

February 20, 2011

Refresh pada Desktop, Ritual atau Kebutuhan?

Masih ingat menu klik kanan pada sistem operasi Windows? Mungkin jika ada yang terlupa mari saya ingatkan.

Menekan menu refresh pada saat komputer terasa lambat, setelah baru saja masuk desktop, dan sebelum shutdown itu lumrah dilakukan kebanyakan orang.

(Bahasan pada Linux).

  • Sebenarnya apa yang dilakukan “refresh”?
  • Menata kembali icon pada desktop?
  • “Memprioritaskan” ke desktop pada saat terasa lambat pada beban sebuah aplikasi?
  • Apa yang terjadi setelah menekan menu refresh? Komputer merasa lega atau anda yang lega?

Bagaimana kalau kita menambahkan “refresh” pada desktop Linux, Dengan Alasan :

  • Pengguna baru terbiasa menggunakan “refresh” dan mencarinya juga pada desktop Linux.
  • ….. (ada yang mau menambahkan?)

Jika “refresh” digunakan sebagai pancingan ketika kita menggunakan desktop berarti teknologi yang anda gunakan terlalu kuno. Contoh, setelah kita menancapkan usb flashdisk kemudian dia akan otomatis “refresh”. Dan kemudian otomatis membuka peramban berkas misalnya, atau aplikasi pengelola gambar karena didalam flashdisk berisi gambar. Ini baru namanya komputer, tahu apa yang mesti dia lakukan. (mdamt)

Xorg menyediakan sebuah tool bernama xrefresh, biasanya digunakan untuk “mereko-reko” menu refresh pada desktop Linux. Tapi apa sebenarnya yang dilakukan xrefresh? Mari kita lihat pada KODENYA. Tidak perlu “canggih” untuk membaca kode tersebut, cukup lihat pada baris 52.

Kitchen sink version, useful for clearing small areas and flashing the screen.

Menata kembali icon pada desktop? kurang tepat jika bernama “refresh”. Sadarlah kawan, bahwa “Clean Desktop by name” adalah “refresh” versi Gnome.

“Memprioritaskan” ke desktop pada saat terasa lambat pada beban sebuah aplikasi? Masalah resources?. Control group (cgroups) lebih tepat untuk mengatur resouce usage, dan ini merupakan fitur dari Kernel Linux.

Apa yang terjadi setelah menekan menu refresh?. Apakah anda lega yang anda lakukan dan sekarang tidak lakukan pada kebanyakan Desktop di Linux adalah hal yang percuma (tidak sia-sia). Tidak sia-sia karena lumayan melegakan setelah melihat desktop anda sedikit berkedip. :P

Pengguna baru terbiasa menggunakan “refresh” dan mencarinya juga pada desktop Linux. Agar desktop Linux lebih ramah terhadap pengguna baru, jadi bukan hanya pengguna yang sudah pintar dan geek saja yang bisa menggunakan Linux?. Saya rasa sangat ajaib hanya dengan meninggalkan “refresh”

February 18, 2011

Halo Python dan Halo Vala

Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Aku ngenteni teka mu
Marang mego ing angkoso
Sung takok-ke pawartamu

#!/usr/bin/env python

import pygtk
pygtk.require('2.0')
import gtk

class HelloWorld:

 def __init__(self):
 self.window = gtk.Window(gtk.WINDOW_TOPLEVEL)
 self.window.set_title("Hello Python!")
 self.window.connect("destroy", gtk.main_quit)

 self.button = gtk.Button("Hello World")
 self.button.connect("clicked", self.hello, None)

 self.window.add(self.button)
 self.window.show_all()

 def hello(self, widget, data=None):
 print "Hello World"

 def main(self):
 gtk.main()

if __name__ == "__main__":
 hello = HelloWorld()
 hello.main()

Janji janji aku eleng cah ayu
Sumedot roso ing ati
Lintang lintang’e wingi wingi nimas
Tresna ku sundul ing ati

Ndek semono janjimu disekseni
Mego kartiko keiring roso tresno asih

using Gtk;

class Hello : Window {
 public Hello () {
 this.destroy.connect (Gtk.main_quit);
 this.set_title ("Hello Vala!");

 var button = new Button.with_label ("Hello World");
 button.clicked.connect (halo);

 this.add (button);
 }

 private void halo (Gtk.Button button)
 {
 stdout.printf ("Hello World\n");
 }

 static int main (string[] args) {
 Gtk.init (ref args);

 var hello = new Hello ();
 hello.show_all();

 Gtk.main ();
 return 0;
 }
}

Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Rungokno tangis ing ati
Miraring swara ing ratri nimas
ngenteni bulan ndadari

August 12, 2010

Bangkitkan Semangat Nasionalisme!

Semenjak bergabung di pasukan pengembang BlankOn saya merasakan hal yang sedikit tak lazim seperti pengguna komputer lain. Orang yang ahli dibidang komputer biasanya sengaja menggunakan istilah-istilah “ingris” biar keliatan keren. Berbeda dengan seluruh pasukan disini, mereka sebisa mungkin mengartikan istilah-istilah yang keren tadi ke bahasa indonesia. Menurut saya ini sangat mengagumkan, yang awalnya saya terperangah mendengar kata-kata yang “aneh” sekarang justru ikut menggunakan kata-kata “aneh” yang memang menunjukan bahwa kita mencintai negeri ini.

Kata pertama yang saya baru dengar adalah “Surel” alias “Surat Elektronik” dari pak somat, awalnya saya bingung namun setelah saya tanyakan baru saya “ngeh” kata itu.

July 2, 2010

Google is your Grandmother – Mbah Google

Someone thinks you are an idiot because you were too stupid to check