March 14, 2010

Linux : Dari apt ke emerge, sesuatu yang sangat berbeda

Dulu pada waktu masih mencoba-coba Linux saya terbenturkan masalah pemilihan distribusi yang cocok dengan saya. Mungkin masalah ini sangat lumrah pada orang yang baru pindah ke Linux. Distro yang pertama kali saya coba adalah Mandrake, kemudian pindah ke Fedora, kemudian beralih ke Suse, Kemudian Debian, dan sekarang Ubuntu.

Suse bertengger lumyan lama di mesin saya, tapi kemudian saya tergiur dengan Debian yang di pakai suhu saya stwn. Tapi sejak Ubuntu 8.04 saya merubah sistem dengan distribusi Ubuntu. Sesama Deb based banyak kesamaan diantara keduanya, sama-sama memudahkan pengguna untuk update bahkan upgrade. Installasi aplikasi yang sangat lumayan merepotkan di Rpm based yang saya rasakan pada jaman itupun terlupakan.


Terkendala koneksi Interrnet, apt memang dirancang untuk mengambil semua binary aplikasi dari repository. Masalah saya ini dapat terpecahkan dengan me-mirror repository kedalam Hardisk lokal dimesin saya. Terima kasih kepada Yuda, yang pada jaman itu telah menyempatkan waktunya untuk membuatkan mirror untuk saya.

Debian based memang sangat menakjubkan, banyangkan distibusi ini sampai-sampai bisa memisahkan paket untuk Development (-dev). Tidak hanya sampai disitu, banyak yang saya dapat dari Debian dan Ubuntu. Sebuah distribusi yang memang layak disebut sebagai general purpose operating system.

Lalu mengapa saya sekarang tertarik emerge based dengan distribusi Gentoo? Saya pernah memposting sesuatu ke plurk.

Apakah saya bosan dengan kenyamanan dan kemudahan?

Apakah saya tidak merasakan tantangan Linux seperti dulu?

Apakah Gentoo lebih bagus?

Ada apa di Gentoo?

Berbicara Gentoo maka anda dihadapkan pada beberapa statment, sejauh mana anda ingin mengkompilasi sistem anda dan bagaimana sistem yang anda inginkan.

Kutipan dari Gentoo Handbook :

Gentoo adalah metadistro modern yang kencang dengan rancangan yang rapi dan fleksibel. Gentoo dibangun dengan software bebas dan tidak akan menyembunyikan apapun yang berada dibalik Gentoo dari para penggunanya. Portage, sistem pengatur paket yang digunakan oleh Gentoo, ditulis dengan Python, yang berarti anda dapat dengan mudah melihat dan memodifikasi source code-nya. Sistem paket Gentoo menggunakan source code (walaupun dukungan terhadap paket-paket prebuilt diikutsertakan juga) dan konfigurasi Gentoo menggunakan file text biasa. Dengan kata lain, keterbukaan ada dimana-mana.

Menjelajahi sistem dari mulai pertama dibuat, mempelajari apa yang dikerjakan aplikasi, dan masih banyak lagi yang saya temukan di Gentoo untuk mendukung cita-cita saya menjadi System Administrator.

Semua sistem canggih berawal dari barisan kode, dan saya harus tau apa dan bagaimana kodenya.

Comments (14)

  1. March 20, 2010
    Atha said...

    Sebelum Gentoo anda, Slackware sudah melakukannya lebih 10 tahun yang lalu, dan sampai sekarang masih dipertahankannya.

  2. March 20, 2010
    Atha said...

    Maksudnya bukan Gentoo anda, tapi Gentoo ada. Kalo ngetik buta jadi seperti ini ni akibatnya :)

  3. March 21, 2010

    hahaha…yup mungkin hampir sama dengan slackbuild ya…
    emerge terispirasi dari port-nya freebsd :D

  4. March 24, 2010
    dani said...

    Jika waktu kompilasi yang lama dianggap tidak masalah, Gentoo pas untuk penggunanya. Jika butuh waktu yang lebih cepat untuk memperoleh distro terkini, Arch Linux sepertinya layak coba. :)

    Selain emerge, sepertinya ngga ada pengelola paket yang bisa unduh dan compile secara paralel/bersamaan (multitab), asal ngga make dependensi yang sama.

  5. March 24, 2010

    sebenarnya bukan masalah waktu kompilasi yang lama, tapi kadang-kadang jika butuh sesuatu dan harus cepat terasa juga lamanya kompilasi…hehe

    sempat pernah mau mencoba Arch juga…mungkin mas Dani bisa cerita suka duka di Arch.. :)

  6. March 24, 2010
    dani said...

    Yang tentang arch, sudah sempat tertulis beberapa kali. Pas butuh sistem rolling release yang cepet jadi, pilihan akhirnya jatuh ke arch. Jadilah archer nambah satu. Tapi, server hosting idwebspace kayaknya error (lagi). :)

  7. March 24, 2010
    dani said...

    Di Arch, paketnya kebanyakan vanilla. Mirip Gentoo. Fx/Namoroka-nya saya ubah manual vendornya.

    Untuk tambahan informasi, Chromium 5.x sepertinya belum bisa baca XSL stylesheet. Karena blog saya make itu. :)

  8. March 24, 2010

    @dhani : hmmm..pantes saya tadi mengunjungi blog mas dhani keliatan aneh… :P

    saya sudah lakukan installasi Arch mas dimesin saya, sekarang lagi menambahkan desktop kebangsaan saya E17 :D

    kesan dari Arch pertama2 mirip gentoo, livecd nya hanya installer…packman nya juga keren…wah bakal mendua lagi ni ;) )

  9. March 25, 2010
    dani said...

    Iya tuh..maaf..harddisk servernya idwebspace katanya rusak (lagi dan lagi..) :)

    Arch Linux modalnya cuman Arch Wiki. Temen-temen archlinux-id sudah sempet menerjemahkan sebagian ke bahasa Indonesia walau belum setotal Gentoo Docs.

    Dipilih..dipilih.. :D

  10. March 25, 2010

    wakakakakak…installer core nya enak yah, semacam stage-nya sudah ada di cdnya. jadi untuk buat minimal enviroment tidak memerlukan koneksi (rock)

  11. March 25, 2010

    weiks…laptop pinjeman ketauan =)) Wintonk :P

  12. March 25, 2010
    darmanex said...

    (panic) wuihhh….mantabssss,…(muhaha)

  13. March 25, 2010

    @darman : nape man? (tongue)

  14. June 1, 2010
    gus yudis said...

    aloo master semua..aku mau tanya donk..aku newbie di os linux..aku pengguna linux ubuntu 10.04..
    yang aku mau tanyakan
    kalo buat belajar baru enaknya pake distro yang mana ya?
    jujur ja..masih bingung dengan command command di terminalnya
    minta saran dan pencerahan dari master semua..

    thanks

Leave a Reply