June 25, 2010

Linux : Repair? Restore? Mungkin lebih tepat membackup

Backup Brain

Akhir-akhir ini saya sering sekali ditanyai mengenai Restorasi di Linux, mungkin yang dibayangkan penanya adalah sebuah wizard yang dapat membantu mengembalikan keadaan System Linux nya seperti semula atau seperti pada saat dia terakhir membuat Image Restore.

Berikut adalah salah satu contoh pertanyaannya TanyaLinux.Com

Memang agak rumit untuk menjawab pertanyaan tadi, Linuxer manapun mungkin agak sedikit ragu untuk menjawab *termasuk saya*. Karena kita harus menyadari bahwa semua yang ada didalam System Linux itu merupakan hal-hal kecil dan terpisah yang dijadikan menjadi sebuah kesatuan. Tergantung kerusakan ada dimana, itu mungkin lebih mudah untuk menjawab, karena hal yang ditanyakan adalah bagian terkecil yang mungkin sekali untuk cepat diketahui dan diperbaiki. Ini akan lebih menguntungkan dari pada harus menghapus dan mengcopy ulang semua yang ada di System.

Contoh kasus, Grub hilang karena menginstall system operasi lain. Ini perlu ditekankan bahwa yang hilang adalah Bootloader yang bernama Grub bukan semua System Linux yang sudah terinstall sebelumnya. Banyak sekali yang karena belum mengetahuinya lalu menginstall ulang System mereka mulai dari pertama.

Norton Ghosh, membuat sebuah image duplikasi system yang dapat di copykan kembali. Mungkin tool seperti ini yang dimaksud, lalu bisakah digunakan di Linux? kalau tidak bisa apa tool penggantinya?

Membuat Image dengan cara mengcopy semua file yang ada di System, kemudian mengkompres dalam sebuah kompresi dan mengekstraknya kembali jika ingin mengembalikan seperti pada saat membuat Image. CloneZilla, Remastersys, dan tool-tool lainnya dapat mengerjakan hal ini.

Alangkah lebih cantik lagi bila yang dilakukan adalah mencatat semua yang terinstall di System (aplikasi), membackup semua konfigurasi, membackup semua file user. Kemudian ketika ingin mengembalikan system yang dilakukan adalah menyamakan aplikasi yang terinstall dengan yang ada dicatatan, mengembalikan semua konfigurasi dan fileuser, dan terakhir mengecek semua aplikasi dan bagian terkecil dari system berjalan dengan baik dan tidak mengalami kerusakan. Ini hanya ide saya saja, dan semoga segera ada yang merealisasikannya :D

Contoh sederhana, ketika kita ingin membackup semua konfigurasi yang ada di Desktop kita bisa mengcopy semua file dan directory di home user kita yang diawali dengan . (titik).

Comments (17)

  1. June 25, 2010
    . said...

    sesuk maneh, yen fresh install yo partisi /home dipisah wae, ben ra usah backup2an…

  2. June 25, 2010

    @rijal : hahaha..klo diubuntu itu enak semua system tidak dibackup bisa diinstall lagi dengan cepat. Klo di distro maenan saya paling tidak membackup Minimal Enviromentnya supaya aman, maklum kompilasi kadang bisa 2 hari :-&

  3. June 25, 2010
    Pujianto said...

    dab, mbok aku nunut hosting blog… hahaha

  4. June 25, 2010

    @pujianto : aku aja nunut malah di nunuti (doh)

  5. June 25, 2010
    ohdediku said...

    Linuxer manapun mungkin agak sedikit ragu untuk menjawab *termasuk saya*

    whuzzz…
    enek linuxer cah… :P :P :P

  6. June 26, 2010
    nasrullah said...

    Terima kasih

  7. June 26, 2010

    @ohdediku : hus hus hus freebsd user ndak uah komen :P

    @nasrllah : sama sama

  8. June 26, 2010
    cidtux said...

    sip kang.. mantab.. klo saya untuk backup ataung klone, biasa pakai “dd” untuk kapasitas diatas 4 GB, dan “mylivecd: untuk kapasitas pas 4GB (DVD) :D

  9. June 26, 2010

    @cidtux : kenapa aku ngak pake dd, karena yang diclone itu partisi lalu dibuat image bukan realsize dari system, Jadi akan sangat besar sekali Image saya nantinya, karena partisi saya besar (goodluck)

  10. June 26, 2010
    Mufti said...

    Alhamdulillah, selama bertahun-tahun puluhan kali menginstall OS di komputer & laptop saya, nggak pake backup data duluan dan nggak pernah kecelakaan datanya ilang.

    Saya emang biasanya mencatat software tambahan yang pernah diinstall & file konfigurasinya kalo mau ngehapus OS dan nyoba-nyobain distro lain, untungnya di slackware gak terlalu ribet konfigurasinya. Entah Debian ini, saya lagi nyoba-nyoba.

  11. June 26, 2010

    @mufti: kalau debian based copy aja deb package yang ada di /var/cache/apt/ untuk aplikasi yang sudah diinstall atau kalau mau lebih keren bikin script buat nyatat dan reinstall semua aplikasi yang ada di system (evil_grin)

  12. July 1, 2010
    dedi said...

    Seep lah info nya
    tak coba nanti..

  13. July 15, 2010
    rusydi said...

    jadi ingat kemaren harus install ulang slackware
    karena ga pernah backup, semua konfigurasi sebelumnya hilang
    terpaksa konfigurasi ulang dr awal

    sekarang harus rajin backup data :)

  14. September 11, 2010
    royani said...

    wah…. bingung juga nih

  15. September 13, 2010

    wah, bingung kenapa?

  16. September 15, 2010
    antoxszz said...

    bisa gk ubuntu di repair gw lupa password root sama usernya makannya mw w repair

  17. September 18, 2010

    bisa, coba masuk ke recovery mode. trus disitu pilih Shell. nah tinggal ganti password user pake “passwd nama_user”

Leave a Reply