sudo apt-get install myspell-id
Create Gettext PO from Vala source
For first time you have to add the gettext marker keyword to string that you want to translate.
“translatable string %s”
to
_(“translatable string %s”)
Extract translatable strings from vala source files to new po file.
$ xgettext -o id.po –language=C –keyword=_ –escape src/*.vala
You can start translating. Every PO file has a header that describes its project, version, maintainer and licensing terms. The Gettext tools will auto generate a header skeleon for a new PO file. You should update it.
If there are additional translatable string in the vala source files, you can use the -j option to join with existing file.
Forget Hardware. Your next phone is in the cloud.

Sebulanan yang lalu saya mendapat undangan dari Fachry Badafal beserta beberapa teman, dia adalah salah satu orang Bancakan. Dia menjadi Developer Ambassador dari Blaast untuk wilayah Jogja.Blaast adalah sebuah platform baru, saat pertemuan itu saja SDK masih direncanakan Rilis seminggu lagi.
Javascript, Node.JS lebih tepatnya digunakan dalam Blaast. Jadi sebenarnya bukan “Your next Phone is in the cloud” tapi “Your next Phone Apps is in the cloud”.
MVC, Menggunakan JSON dan JS. Eh brarti M nya ilang mungkin yah. Viewer dan Data di simpan dalam JSON.
Naaaah, pas rilis pertama SDK…eeh belum ada buat Linux. Dan akhirnya sayapun menunggu, beberapa hari kemudian barulah tersedia.
Silahkan dicoba sendiri. https://developer.blaast.com/
Eh ada lombanya juga loooh https://developer.blaast.com/make-your-app
Menurut SAYA :
Blaast itu mempunyai arti unik, mungkin artinya “ra dong blast” atau “babar blast…”
Tapi idenya keren, jempol buat yang brainstorming.
#BlankOnista : Merayu bukan berarti harus membohongi
Linux itu cukup jauh berbeda dengan sistem operasi lain seperti Windows dan Mac. Bohong kalau ada yang bila “Linux itu hampir sama dengan Windows/Mac” karena “Windows/Mac cukup jauh berbeda dengan Linux”.
Agar orang mau menggunakan Linux bilang begitu? Saya rasa itu akan menambah kekecewaan orang ketika dia tahu dengan sendiri nya “Linux memang cukup jauh berbeda”.
Kesimpulan dan Tips dari BlankOnista :
- Katakan Linux itu berbeda dengan Windows/Mac, dengan begitu sang calon pengguna akan memaklumi ketika dia menemukan banyak perbedaan pada Linux.
- Katakan berbeda itu “keren”.
- Kenapa berbeda? karena ini menyangkut masalah “rasa” dan “merasakan”.
NB :
Terispirasi dari sebuah adegan pembohongan penistaan penjelasan tentang migrasi dari sistem operasi yang lain ke Linux.
Hashtag
Refresh pada Desktop, Ritual atau Kebutuhan?
Masih ingat menu klik kanan pada sistem operasi Windows? Mungkin jika ada yang terlupa mari saya ingatkan.
Menekan menu refresh pada saat komputer terasa lambat, setelah baru saja masuk desktop, dan sebelum shutdown itu lumrah dilakukan kebanyakan orang.
(Bahasan pada Linux).
- Sebenarnya apa yang dilakukan “refresh”?
- Menata kembali icon pada desktop?
- “Memprioritaskan” ke desktop pada saat terasa lambat pada beban sebuah aplikasi?
- Apa yang terjadi setelah menekan menu refresh? Komputer merasa lega atau anda yang lega?
Bagaimana kalau kita menambahkan “refresh” pada desktop Linux, Dengan Alasan :
- Pengguna baru terbiasa menggunakan “refresh” dan mencarinya juga pada desktop Linux.
- ….. (ada yang mau menambahkan?)
Jika “refresh” digunakan sebagai pancingan ketika kita menggunakan desktop berarti teknologi yang anda gunakan terlalu kuno. Contoh, setelah kita menancapkan usb flashdisk kemudian dia akan otomatis “refresh”. Dan kemudian otomatis membuka peramban berkas misalnya, atau aplikasi pengelola gambar karena didalam flashdisk berisi gambar. Ini baru namanya komputer, tahu apa yang mesti dia lakukan. (mdamt)
Xorg menyediakan sebuah tool bernama xrefresh, biasanya digunakan untuk “mereko-reko” menu refresh pada desktop Linux. Tapi apa sebenarnya yang dilakukan xrefresh? Mari kita lihat pada KODENYA. Tidak perlu “canggih” untuk membaca kode tersebut, cukup lihat pada baris 52.
Kitchen sink version, useful for clearing small areas and flashing the screen.
Menata kembali icon pada desktop? kurang tepat jika bernama “refresh”. Sadarlah kawan, bahwa “Clean Desktop by name” adalah “refresh” versi Gnome.
“Memprioritaskan” ke desktop pada saat terasa lambat pada beban sebuah aplikasi? Masalah resources?. Control group (cgroups) lebih tepat untuk mengatur resouce usage, dan ini merupakan fitur dari Kernel Linux.
Apa yang terjadi setelah menekan menu refresh?. Apakah anda lega yang anda lakukan dan sekarang tidak lakukan pada kebanyakan Desktop di Linux adalah hal yang percuma (tidak sia-sia). Tidak sia-sia karena lumayan melegakan setelah melihat desktop anda sedikit berkedip.
Pengguna baru terbiasa menggunakan “refresh” dan mencarinya juga pada desktop Linux. Agar desktop Linux lebih ramah terhadap pengguna baru, jadi bukan hanya pengguna yang sudah pintar dan geek saja yang bisa menggunakan Linux?. Saya rasa sangat ajaib hanya dengan meninggalkan “refresh”

